Masihkah pantas membuat mereka menangis ?


saat masih kecil, seringkali kita merengek kepada orang tua, hanya karena ingin dipahamin keinginannya. Tapi jika dipikir lebih dalam, itu adalah sebuah ekspresi dari ANAK KECIL. Apakah pernah terbesit untuk tetap merengek saat kita sudah dinilai dewasa ? TETAPI bukan sembarang merengek melainkan mengeluh complain dan perhitungan, sampai terjadi bukan kita yang menangis melainkan mereka yang meneteskan air mata.

Orang tua

“banyak di antara anak-anak yang kini sudah besar, tega menganggap setiap ikatan antara anak dan orangtua, tidak ubahnya mereka pandang hanya sebagai anak tangga. mereka melangkahinya untuk mencapai tujuan. dan bila tangga itu tidak digunakan lagi, tangga itu di anggap seperti kursi, seperti meja, baju yang rusak, atau bahkan koran-koran bekas, dan dianggap sebagai barang yang tidak berguna. barang yang tidak pantas mereka kenakan atau dipandang lagi. barang yang harus dimasukkan gudang…!? sehingga bukanlah hal yang sulit untuk membuat oran tua menangis.”

Teringat satu cerita dimana aku memukul seorang yang tidak tahu apa-apa, mengerang kesakitan tapi aku tak perduli, aku hajar kembali, tak perduli dia berapa keras menjerit. Satu keberuntungan datang dimana aku dihukum saat itu juga. entah bagaimana jika aku merasakan hukuman tersebut setelah aku mati.

Saat itu aku hanya diberikan CERMIN. si penghukum berkata “Berkacalah siapakah dirimu, tak lebih dari manusia yang lebih rendah dari anjing tak berotak, Bagaimana jika kau berada di posisi nya ? Apakah tidak berfikir Ibunya menangis meratapi nasib anaknya yang kau pukuli ? “.

1 Kalimat 2 Makna. Cermin itu mengajarkan kita selalu mengerti keadaan orang lain, sebelum memukul, mintalah orang lain memukul diri anda., yang kedua, meskipun bukan orang tuamu, tapi posisikan dia sebagai orangtua-mu, bagaimana ia Menangis ketika akibat perbuatanmu.

Amatlah rugi orang yang tega meneteskan air mata orangtuanya. Dan tidak bisa mengecap wangi surga karena durhaka dan tidak berbakti pada orangtuanya.

“Siapa yang membuat orang tuanya menangis, maka durhakalah dia.” (HR. Bukhari).
Dalam riwayat Abu Dawud dan An-Nasai disebutkan laki-laki itu berkata kepada Rasulullah SAW, “ Aku meninggalkan kedua orang tuaku dalam keadaan menangis”. Lalu Rasulullah SAW bersabda,” Kembalilah kepada kedua orangtuamu, buatlah mereka tertawa, seperti halnya kamu telah membuat mereka menangis.”
Membuat orangtua menangis karena kedurhakaan kita adalah perbuatan yang hina. Siapa yang tega menjatuh setetes pun air mata orangtuanya, kecuali seorang PENGECUT.
Bahagiakan mereka, Sebelum beliau dipanggil oleh Allah SWT dengan tubuh rentanya.

Orang tua

Apakah saat ini aku terlihat memprovokasi ? Bodoh jika berfikir seperti itu. Lalu bagaimana jika ada yang melukai Orang Tua kita ? Diam ? atau melawan ? Aku hanya jawab dengan 1 pertanyaan.

MENGAPA TAK KAU SIMPAN ORANG TUAMU DI PANTI JOMPO JIKA TAK SANGGUP KAU LINDUNGI ?.

Aku pikir itu akan membuat mereka lebih damai, dan dapat tertawa lepas, karena aku yakin mereka akan berfikir “Kelak, engkau harus menjadi orang tua yang berhasil dalam mendidik anakmu, jangan seperti kami yang telah gagal mendidikmu“.

Apakah terlihat kekecewaan orangtua terhadap anaknya ? Tapi apakah kita masih harus selalu menyakiti mereka ? ataukah pura-pura tak merasa sambil menunggu mereka mati kemudian bersujud meminta maaf.

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s