Bertahan dalam kompetisi – Bagian 1

Konsultan IT

Saat masih kecil yang terpikir hanya bagaimana cara merayu orang tua untuk dibelikan sepeda, Masuk dunia pendidikan terfikir bagaimana cara menjadi juara kelas, dan mempertahankan prestasi dalam sebuah persaingan antar siswa. Saat memasuki dunia kerja, berfikir bagaimana bertahan dalam satu persaingan menjadi “Valuable employee”, Namun disisi lain terfikir usaha untuk mempertahankan Perusahaan sendiri ditengah persaingan keras dunia IT.


Pengalaman demi pengalaman selama 8 Tahun mungkin bagi pemula sangat berat, bagaimana tidak, karena belum mengerti harga setetes Keringat. Selalu berfokus kepada penghasila besar, Akhirnya saya rancang ulang dari tahun 2011, ternyata :

Tentang VISI , kesalahan besar menjadikan Profit pada barisan terdepan sebuah visi.

  1. Don’t think about MONEY too much. You’re not selling a ‘thing’.
    Ya, saya tidak menjual produk, melainkan jasa, yang menjadi prioritas adalah kepercayaan, kualitas, perlahan namun pasti. Antara percaya dan tidak, Berfikir terlalu keras tentang UANG hanya akan menggerogoti rambut dikepala, memaksakan kulit cepat keribut, perubahan warna rambut terlalu dini, Santai sedikit, akan menenangkan jalan fikiran.
  2. Sell it lower and you got ‘respect’ , ‘trust’ .. Whatever the name or Sell it high and people will scream ‘f*ck you then’.
    Pernah terfikir mengapa di Indonesia, bengkel biasa lebih banyak peminat dibanding Dealer Resmi ?? Dengan harga 25000, Hasil yang didapat sama, tapi point PLUS !! mungkin 1 : 1juta akan didapatkan. Sementara kita lihat pegawai dealer pulang dari kantor dengan wajah bermuram durja karena hanya 1 pelanggan berikut penuh komplain. Tinggal pilih, karena Hidup adalah pilihan.

Pikirkan Pesaing, karena penjual gorengan hampir 75% tersebar di Nusantara dan 50% bersembunyi dalam kota yang kita injak

  1. Majoring Schools, Freelancer, Corporate.
  2. Saat mendengar Sekolah Menengah Kejuruan yang terfikir adalah “Lihatlah disana bocah Ingusan berjualan Pizza”, Tapi lihat dompet mereka, terstruktur dengan barisan lembaran merah paling depan dan receh di setiap celah saku. Sementara mereka melihat perusahaan sambil cengengesan “Hai, pernah lihat Hiu Ompong ?” berlanjut tertawa lenggang sampai tumbuh bulu diperut mereka karena bulu ketiak pun ikut mentertawai pegawai diperusahaan yang ‘bergengsi’.
  3. Freelancer ? pegawai bebas yang tak mengenal aturan, tidak terkoordinir, tapi mampu bersaing

Kenapa tidak berfikir REAL ? kita pun masih berharap membeli gorengan tidak lebih dari 1000 rupiah. Resiko keraguan akan selalu menghantui, Ketakutan, FEAR, itu hanya sebuah kata-kata, tapi bermakna :

Face Everything And Rise
or
Forget Everything And Run

Percayalah, Profit itu diam ditempat, seperti kata pepatah, Jodoh itu ditangan tuhan, jemputlah dia, jangan lupakan satu hal, ketika menjemput “Apakah saya pantas untuk diterima”. Dalam bisnis ?, Jemput lah peluang, Profit, Keuntungan,jangan lupakan satu hal ketika menjemput, “Apakah layanan saya ini pantas dinilai sekian ?”

Ya … ya… ya… akan ada yang berfikiran skeptis,dengan melontarkan celetukan “berarti itu pelanggan bukan kelas kita”. Tapi dalam hitamnya kopi akan ada putih gula. “Seandainya kita ingin menikah dengan puteri Raja, apakah pantas datang dengan baju penuh bolong, kulit penuh plester, atau berpakaian dengan acak corak warna bertabrakan”. Think.

Sudah saat nya bertanya pada diri sendiri.

  1. Still with wrong vision ?
  2. Penjualan bukan hanya tentang berbicara, mempengaruhi orang lain, Tapi saat ini, orang selalu berharap Sales tahu proses pembuatannya.

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s